PKT-PA

POLI  PELAYANAN KEKERASAN TERPADU (PKT)

SATU PINTU TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK 

DI RSUD Dr. H. BOB BAZAR, SKM

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

 

  1. Latar Belakang

Kekerasan terhadap anak dan perempuan adalah sebuah fenomena global yang tidak terpengaruh boleh batas-batas rasias atau suku, kultur dan kelas sosial. WHO memperkirakan bahwa penyebab kematian terbesar pada perempuan usia 14-44 tahun dibanding kombinasi kamker, malaria dan kecelakaan lalu nlintas. Secara global paling tidak 1 dari 3 perempuan dan gadis akan mengalami pelecehan seksual dan fidik dalam hisupnya.

Data dari Komnas perempuan mencatat pada tahun 2007 terdapat 25.522 kasus kekerasan terhadap perempuan  dan 54.425 kasus pada tahun 2008, daari njumlah tersebut 90% adalah kasusu  kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Hasil survey kekerasan terhadap perempuan dan anak tahun 2006 yang diselenggarakan oleh BPS dan Kantor Pemberdayaan Perempuan (KPP) menghitung prevalensi kekerasan terhadap perempuan 3,07% (30 dari 1000 perempuan dan kekerasan terhadap anak 3,02%. Sampai saat ini penanganan para korban kekerasan terhadap perempuan (KIP) dan kekerasan terhadap anak (KtA) di rumah sakit dilakukan belum terpadu dan bersifat seperti layanan pasien umum lainnya.

Mengingat hal tersebut di atas maka perlu dilakukan upaya peningkatan pelayanan korban kekerasan baik terhadap perempuan ataupun anak di rumah sakit, dengan memdirikan poli pelayanan terpadu terhadap kekerasan pada perempuan dan anak.

  1. Tujuan
  1. Umum

Meningkatkan pelayanan terhadap korban kekerasan baik pada perempuan maupun anak-anak

  1. Khusus
  1. Memberikan pelayanan terpadu terhadap korban kekerasan baik pada perempuan maupun anak-anak
  2. Memberikan bantuan medikolegal terhadap korban kekerasan baik pada perempuan maupun anak-anak
  1. Indikator Keluaran (output)

           Terbentuknya poli  pelayanan terhadap korban kekerasan baik pada perempuan maupun anak-anak.

  1. Rancang Bangun Program

Kekerasan terhadap perempuan menjadi konsekuensi paling serius dari ketidaksetaraan hubungan laki-laki dan perempuan dimana perempuan berada pada posisi rentan terhadap kekerasan. Beragam bentuk kekerasan berbasis gender dapat terjadi pada perempuan sepanjang siklus hidupnya, mulai dari masa janin (seleksi jenis kelamin), anak (sunat perempuan), remaja (kawin paksa, kekerasan dalam pacaran, perkosaan, pelecehan seksual) sampai lanjut usia (penelantaran), baik di lingkup rumah tangganya (personal), yang dikenal sebagai kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), maupun di lingkup kehidupannya bermasyarakat. Meskipun sebagian besar korban kekerasan adalah perempuan, tetapi laki-laki, anak laki-laki dan anak perempuan juga mengalami kekerasan seksual.

Kekerasan pada anak atau perlakuan salah pada anak adalah suatu tindakan semena-mena yang dilakukan oleh seseorang yang seharusnya menjaga dan melindungi anak (caretaker) pada seorang anak baik secara fisik, seksual, maupun emosi. Pelaku kekerasan di sini karena bertindak sebagai caretaker, maka mereka umumnya merupakan orang terdekat di sekitar anak, seperti ibu dan bapak kandung, ibu dan bapak tiri, kakek, nenek, paman, supir pribadi, guru, tukang ojek pengantar ke sekolah, tukang kebun, dan seterusnya. Jumlah anak korban tindak kekerasan dan perlakuan salah pada tahun 2004 mencapai 48.526 kasus (Depsos, 2004). Anak-anak yang mengalami kekerasan atau kejahatan (yang menyebabkan gangguan fisik dan atau mental) diprediksikan sebesar 10-12% persen per tahun dari jumlah anak di Indonesia. Sampai saat ini penanganan para korban kekerasan terhadap perempuan (KIP) dan kekerasan terhadap anak (KtA) di rumah sakit. 

dilakukan belum terpadu dan bersifat seperti layanan pasien umum lainnya.

Direktur dan jajarannya belum melihat kasus KIP dan KtA sebagai kasus yang perlu ditangani secara serius. Petugas kesehatan sebagai lini terdepan dari layanan publik adalah orang pertama yang akan didatangi bila korban mendapat cedera serius. Pemahaman dan kepekaan petugas sangatlah diperlukan untuk dapat mengidentifikasi kasus-kasus seperti ini. Selain itu, kasus kekerasan biasanya berlangsung kronis dan seringkali bermanifestasi dalam bentuk-bentuk penyakit lain, seperti psikosomastis, depresi, stres, dan bahkan seringkali sampai mengganggu kesehatan individu dalam jangka panjang yang tidak disadari oleh korban tersebut. 

Mengingat hal-hal tersebut diatas, maka diperlukan upaya peningkatan pelayanan korban kekerasan baik perempuan maupun anak di rumah sakit. Dalam menyusun pedoman ini telah melibatkan klinisi, rumah sakit, Kantor Pemberdayaan Perempuan, dan instansi terkait lain. Diharapkan buku pedoman yang baru dapat menjadi acuan bagi penyelenggaraan pelayanan korban kekerasan yang bermutu dan profesional dengan berfokus pada kepentingan korban.

  1. DETEKSI KASUS KEKERASAN PADA PEREMPUAN DAN ANAK

           Deteksi korban kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat dilakukan dengan              melihat bentuk dan jenis kekerasan, perilaku korban maupun tanda-tanda khusus                      kekerasan.

  1. a. Bentuk dan Jenis Kekerasan

Kekerasan terhadap perempuan yang sering ditemukan di rumah sakit dapat berupa cedera fisik dan psikis dengan gradasi yang bervariasi mulai dari yang ringan sampai berat.

Bentuk Kekerasan dikategorikan dalam 5 kelompok :

  1. Kekerasan seksual
  2. Kekerasan fisik
  3. Kekerasan psikis
  4. Gabungan dua atau 3 gejaladiatas
  5. Penelantaran (pendidikan, gizi, emosional)

Berdasarkan tempat terjadinya:

  1. Kekerasan di dalam rumah tangga (domestik)
  2. Kekerasan di tempat kerja atau sekolah
  3. Kekerasan di daerah konflik/pengungsian
  4. Kekerasan jalanan

Kekerasan domestik sering tidak dilaporkan  kepada  penyidik,  karena  beberapa hal antara lain:

  1. Korban merasa kekerasan yang dilakukan pasangannya merupakan kekhilafan sementara.
  2. Rasa cinta dan sayang kepada pasangan berusaha untuk memaklumi dan mencoba untuk mengerti perlakuan pasangannya.
  3. Norma yang menerima perilaku laki-laki dalam mengendalikan  perempuan.
  4. Norma yang menerima kekerasan sebagai suatu cara penyelesaian konflik.
  5. Norma yang menerima bahwa seorang istri tidak boleh melawan suami apapun yang dilakukannya.
  6. Kekerasan yang terjadi di dalam  keluarga  terhadap  anak,  pembantu  atau siapapun yang tinggal dalam rumah merupakan suatu aib sehingga tidak pantas diketahui orang.
  7. Ketakutan akan ditinggalkan pasangannya.
  8. Lain-lain.

B. Dampak Kekerasan Terhadap Kesehatan Perempuan dan Anak

     a. Dampak Kekerasan Secara Umum

Tidak semua korban kekerasan terhadap perempuan mau atau mampu menyatakan keluhannya kepada orang lain, apalagi melapor kepada pihak yang berwajib, karena itu sebagian besar kasus justru tidak dilaporkan atau sedikit yang menyatakannya secara sukarela.

Tenaga kesehatan, guru konselor, psikolog, dan ulama adalah  profesi yang kadang-kadang menjadi orang pertama yang mengetahui adanya Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak  (PKT-PA)  secara  tidak  sengaja. Dengan meningkatkan pemahaman tentang kasus Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak (PKT-PA)  diharapkan  para  profesional akan semakin tajam kemampuannya dalam mengenali kasus. Sebagai contoh, pada umumnya korban  perkosaan  akan  mengalami  trauma psikis yang mendalam dan berat, suatu stres pasca trauma,  yang  bila tidak ditangani memungkinkan terjadinya gangguan jiwa yang sangat mengganggu produktivitas selama bertahun-tahun bahkan mungkin sepanjang hidupnya.

b. Dampak Kekerasan Seksual

Efek yang segera terjadi dan berlangsung beberapa waktu setelah perkosaan adalah serangkaian reaksi fisik dan emosional terhadap perkosaan itu sendiri. Korban biasanya dihinggapi rasa takut yaitu takut akan reaksi keluarga maupun teman-temannya, takut bahwa orang lain tidak akan mempercayai keterangannya, takut diperiksa oleh dokter pria, takut untuk melaporkan kejadian yang menimpa dirinya, dan juga takut kalau si pelaku melakukan balas dendam apabila ia melaporkannya. Disamping itu ada reaksi emosional.

lainnya seperti syok, rasa tidak percaya, marah, malu, menyalahkan dirinya, kacau, bingung dan lain-lain. Gangguan emosional ini dapat menyebabkan sulit tidur (Insomnia), kehilangan nafsu makan, mimpi buruk, penghayatan berulang akan kejadian buruk tersebut.

Gangguan stres pasca-trauma (post traumatic stress disorder), mempunyai kriteria diagnostik (Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa III, Direktorat Jenderal Pelayanan Medik,1993).

  1. 1. Kejadian timbul dalam kurun waktu 6 bulan setelah peristiwa traumatikberat.
  2. 2. Terdapat penghayatan berulang, bayang-bayang atau mimpi, dari kejadian traumatik     tersebut secara berulang-ulang (flashback)
  3. 3. Gangguan otonomik, gangguan efek dan kelainan tingkah laku, seperti:
  4. Hyperarousal, dengan gejala: agresi, insomnia, reaksi emosional yang intens seperti depresi (keiginan            bunuh diri); yang merupakan indikasi adanya kecenderungan bahaya yang menerus. Intrusion, dengan gejala: mimpi buruk dan ingatan-ingatan akan peristiwa-peristiwa buruk tersebut yang      amat mencekam dan trauma. Numbing atau mati rasa dengan gejala merasa dirinya tak diperhatikan dan dikucilkan. Pada minggu atau bulan berikutnya korban akan dihinggapi ketakutan yang cukup berat, yaitu takut kalau dia menjadi hamil atau terkena penyakit kelamin, takut menderita HIV/AIDS, takut kepada kekerasan fisik atau kematian, takut kepada orang banyak, takut kalau didekati dari belakang, takut kepada hubungan seksual meskipun dengan suami sendiri, bahkan takut kepada sesuatu yang sukar diduga.
  5. Biasanya korban perkosaan akan menunjukkan perilaku sebagai berikut:
  6. 1. Tidak mampu memusatkan perhatian, atau mengalihkan tatapan mata.
  7. 2. Sering salah ucap dalam bicara
  8. 3. Penampilan tidak rapih/tidak terurus
  9. 4. Banyak melamun dan sulit bicara
  10. 5. Cemas, sikapnya grogi atau serba canggung
  11. 6. Tegang, tampak serba bingung dan panik, mata melihat kesana kemar
  12. 7. Memperlihatkan kebencian dan kemarahan
  13. 8. Depresif, sedih, putus asa, perasaan menjadi sensitive dan mudah salah sangka,            percobaan bunuh diri.
  14. 9. Cenderung merasa salah
  15. 10. Mudah curiga kepada orang lain

c). Dampak Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

Beberapa hal yang perlu dicermati oleh para profesional sebagai tanda adanya kekerasan dalam rumah tangga adalah jenis luka atau penyebab luka, sikap/perilaku korban (perempuan) dan pengantarnya (mungkin suami/pasangan atau pelakunya). Suami/pasangan atau pelakunya ketika mengantarkan berobat dapat menunjukkan sikap yang kurang wajar, seperti tampak ragu-ragu, kuatir berlebihan atas luka-luka kecil, memberikan penjelasan tentang peristiwa yang tidak perlu dijelaskan atau acuh tak acuh kepada istrinya.

Suami/pasangan menanyakan sedikit tentang akibat lanjut perlukaan itu dan kemudian cepat-cepat meninggalkan rumah sakit tanpa memberikan keterangan cukup, atau menolak perawatan inap di rumah sakit. Suami/pasangan yang menganiaya dapat juga menerangkan bahwa luka itu akibat kesalahan perempuan itu sendiri. Tanda lain adalah bahwa suami/pasangan yang menganiaya tersebut sering menunda-nunda mencari pertolongan medik. Dan bila penganiayaan itu dilakukan berulang-ulang oleh suami/pasangan, maka tempat berobat atau dokter atau rumah sakit tempat mencari pertolonganpun berganti-ganti

Berikut ini beberapa hal yang dapat digunakan untuk menilai bahwa terjadi kecenderungan kekerasan dalam rumah tangga:

        1. Cidera bilateral ataumultiple
        2. Beberapa cidera dengan beberapa penyembuhan
        3. Tanda kekerasan seksual
        4. Keterangan yang tidak sesuai dengancideranya
        5. Keterlambatan berobat
        6. Berulangnya kehadiran di rumah sakit akibat trauma.

d). Dampak Kekerasan Terhadap Anak

Dibandingkan dengan korban kekerasan terhadap perempuan, korban kekerasan terhadap anak lebih sering tidak dilaporkan kepada pihak berwajib, terutama apabila pelaku kekerasan adalah orang tua atau walinya sendiri. Karena itu peran profesional dalam mengenali korban kekerasan terhadap anak sangat penting.

Gejala-gejala fisik dari penganiayaan emosional (Psychological Abuse) seringkali tidak sejelas gejala penganiayaan lainnya. Penampilan anak pada umumnya tidak memperlihatkan derajat penderitaan yang dialaminya. 

Cara berpakaian, keadaan gizi  dan  keadaan  fisik  dapat  memadai namun ekspresi wajah, gerak gerik, bahasa  badan,  dapat

mengungkapkan perasaan sedih, keraguan diri,  kebingungan,  kecemasan, ketakutan, atau adanya amarah yang terpendam.

Beberapa perubahan perilaku yang dapat terjadi dapat diamati seperti di bawah ini:

        1. Anak mengatakan dirinya sudah dianiaya.
        2. Membalik/menyangkal cerita yang telah diungkapkan sebelumnya.
        3. Ketakutan berlebih terhadap orang tua atau orang dewasa yang lainnya.
        4. Tidak lari keorang tua untuk minta tolong atau perlindungan.
        5. Memperlihatkan tingkah laku agresif atau penarikan diri yang berlebihan.
        6. Kesulitan atau        kemiskinan dalam hubungan dengan teman sebaya.
        7. Terlalu penurut, pasif.

 

        1. seksual terhadap oranglain.
        2. Lari dari rumah atau melakukan kenakalan remaja.
        3. Perilaku mencederaidiri.
        4. Sering mau bunuh diri.
        5. Gangguan tidur.
        6. Menghindari kontakmata.
        7. Memperlihatkan perilaku terlalu dewasa atau terlalu kekanak- kanakan.

 

Beberapa kategori yang memungkinkan terjadinya penelantaran fisik :

  1. Gagal tumbuh fisik ataupun mental
  2. Malnutrisi, tanpa dasar organik yang  sesuai
  3. Dehidrasi
  4. Luka atau penyakit yang dibiarkan tidak diobati
  5. Tidak mendapat imunisasi dasar
  6. Kulit kotor tidak terawat, rambut dengan kutu-kutu
  7. Pakaian yang lusuh dankotor
  8. Keterlambatan perkembangan
  9. Keadaan umum yang lemah, letargik, lelah

 

World Medical Association menganjurkan agar para tenaga kesehatan menilai seorang anak denganmelakukan

    1. Wawancara tentang riwayat cidera/luka
    2. Pemeriksaan fisik
    3. Pemeriksaanradiologis
    4. Pemeriksaan penapis terhadap gangguan hematologis
    5. Pengambilan fotoberwarna
    6. Pemeriksaan fisik atas saudara kandungnya
    7. Membuat laporan medisresmi
    8. Skrining perilaku Skrining tumbuh kembang anak balita
  1. e. Tanda-Tanda Pengenalan Korban Kekerasan
    1. Tanda-Tanda Pengenalan Korban Penganiayaan Fisik Dan Penelantaran Pada Perempuan Dan Anak

Kesenjangan antara temuan pada pemeriksaan fisik dengan cerita tentang kejadian yang diungkapkan oleh orang tua/pengantar dapat dijadikan indikasi adanya penganiayaan.

Perhatian dan pemeriksaan yang lebih teliti diperlukan bila ditemukan hal-hal di bawah ini, terutama bila ditemukan di bagian-bagian tubuh yang tidak lazim (lihat Buku Pedoman Penatalaksanaan Kegawat daruratan Psikiatrik untuk RSU kelas C & D, Ditjen Pelayanan Medik, hal. 52-56, Jakarta 1999).

Tanda-tanda tersebut sebagai berikut :

    1. 1. Memar

Pada wajah, bibir/mulut, bagian tubuh lainnya seperti di punggung, bokong, paha, betis, dsb.

Terdapat  memar yang baru maupun yang sudah mulai menyembuh. Corak-corak memar yang menunjukkan benda tertentu yang dipakai untuk kekerasan

    1. 2. Luka Lecet (abras/o/?s) dan Luka Robek(laceration)

Di mulut, bibir, mata, kuping, lengan, tangan, genitalia, dsb. Luka akibat gigitan oleh manusia

Di bagian tubuh lain, terdapat baik luka yang baru atau yang berulang.

    1. 3. Patah Tulang (fracture)

Setiap patah tulang pada anak di bawah umur tiga tahun (batita)

Patah tulang baru dan lama (dalam penyembuhan) yang ditemukan bersamaan

Patah tulang ganda / multipel

Patah tulang spiral pada tulang-tulang panjang lengan dan tungkai

Patah tulang pada kepala, rahang dan hidung serta patahnya gigi.

    1. 4. Luka Bakar

Bekas sundutan rokok

Luka bakar pada tangan, kaki atau bokong akibat kontak bagian-bagian tubuh tersebut dengan benda panas Bentuk luka yang khas yang sesuai dengan bentuk benda panas yang dipakai untuk menimbulkan luka tersebut.

  1. 5. Cidera Pada Kepala

Perdarahan (hematoma) sub-kutan dan atau sub-dural, yang dapat dilihat pada foto Rontgen

Bercak/area kebotakan akibat tertariknya rambut, baik yang baru atau berulang

    1. 6. Lain-lain

                      Dislokasi/lepas sendi  pada  sendi bahu atau   pinggul

                        (kemungkinan akibat tarikan).

f. Tanda-Tanda    Kemungkinan Terjadinya        Penganiayaan Seksual

Penganiayaan seksual seringkali dikenali dengan tanda-tanda sebagai berikut :

  1. Adanya penyakit akibat Hubungan Seksual (Sexual Transmitted Diseases), paling sering infeksigonokokus Infeksi vagina yang rekuren/berulang pada anak di bawah usia 12 tahun
  2. Rasa nyeri, perdarahan dan atau discharge dari vagina Gangguan dalam mengendalikan buang air besar dan atau buang air kecil
  3. Kehamilan pada usia remaja
  4. Cidera pada buah dada, bokong, perut bagian bawah, paha, sekitar alat kelamin (genital) atau dubur (anal)
  5. Pakaian dalam robek dan atau ada bercak darah
  6. Ditemukannya cairan mani (semen) di sekitar mulut, genitalia, atau anus
  7. Rasa nyeri bila buang air besar atau buang air kecil Promiskuitas yang terlalu dini (praecox)
  8. Rasa nyeri bila buang air besar atau buang air kecil Promiskuitas yang terlalu dini